News Tideng Pale – Alur pelayaran di Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, kembali dipenuhi tumpukan kayu hanyut pasca hujan deras beberapa hari terakhir. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran para penumpang speedboat dan nakhoda kapal, karena dikhawatirkan dapat memicu kecelakaan seperti yang pernah terjadi di wilayah tersebut pada tahun-tahun sebelumnya.

🚤 Arus Deras Bawa Kayu dari Hulu
Pantauan di lapangan pada Minggu (12/10), batang-batang kayu berukuran besar terlihat mengapung di permukaan Sungai Sesayap, terutama di sekitar jalur utama pelayaran yang menghubungkan Tana Tidung–Malinau dan Tana Tidung–Tarakan.
Baca Juga : Pembangunan Auditorium Pendidikan di Tana Tidung Ditarget Rampung 2026, Jadi Pusat Kegiatan Daerah
Beberapa kayu bahkan tersangkut di dermaga kecil dan menumpuk di tikungan sungai yang berarus deras. Menurut warga setempat, kondisi seperti ini biasanya terjadi setiap kali debit air meningkat akibat hujan di daerah hulu.
“Kalau musim hujan, kayu-kayu dari atas terbawa arus sampai ke sini. Bahayanya, kalau speedboat melintas malam hari bisa menabrak tanpa sempat menghindar,” kata Rudi, warga Desa Tideng Pale.
😟 Kekhawatiran Penumpang dan Operator Speedboat
Para penumpang speedboat yang setiap hari menggunakan jalur Sungai Sesayap mengaku khawatir. Mereka berharap ada langkah cepat dari pemerintah daerah atau instansi terkait untuk membersihkan kayu yang hanyut agar pelayaran tetap aman.
“Kami takut kejadian kecelakaan terulang lagi. Dulu sempat ada speedboat rusak karena menabrak batang kayu besar,” ungkap Fitri, salah satu penumpang rute Tana Tidung–Tarakan.
Sementara itu, sejumlah operator speedboat memilih mengurangi kecepatan selama melintas di jalur yang banyak kayunya. Hal ini dilakukan untuk menghindari benturan keras yang dapat merusak baling-baling maupun bodi kapal.
🧹 Pemerintah Diminta Turun Tangan
Masyarakat meminta Dinas Perhubungan Tana Tidung dan Basarnas Tarakan segera melakukan langkah pembersihan jalur sungai agar aktivitas pelayaran tidak terganggu. Mereka juga berharap adanya patroli rutin di titik-titik rawan, terutama di sekitar tikungan sungai yang kerap menjadi lokasi penumpukan kayu.
“Kami sudah lapor ke petugas pos sungai. Kalau dibiarkan, nanti bisa menghambat kapal logistik juga,” ujar Junaidi, seorang motoris speedboat.
Selain faktor keselamatan, tumpukan kayu juga berpotensi merusak ekosistem sungai serta menghambat aktivitas nelayan di kawasan hilir Sesayap.
🌧️ Antisipasi Musim Hujan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah Tarakan memperkirakan curah hujan tinggi masih akan terjadi hingga akhir Oktober. Warga diimbau tetap berhati-hati saat beraktivitas di perairan dan tidak memaksakan perjalanan saat kondisi air deras.
Pemerintah daerah melalui petugas gabungan akan menurunkan tim untuk mengevakuasi material kayu yang mengapung, terutama di sekitar dermaga utama dan jalur pelayaran umum.